Suatu waktu di suatu tempat yg sangat indah dan nyaman terdapat satu kerajaan megah dan mewah. Di dalam istana terdapat seorang putri berfaras cantik, memilik senyum manis yg membuat semua takluk melihatnya.
Seiring berjalan waktu, sang putri pun tumbuh dan menjadi dewasa. Jatuh cinta, menyayangi dan disayangi oleh satu pangeran dari satu tempat yg sangat jauh di ujung dunia. Mereka membuat banyak cerita kasih, tulus tanpa pamrih yg membuat orang takjub dan terkagum kepada kisah cinta mereka itu.
Walaupun banyak pria yg memiliki rasa terhadang sang putri, sang pangeran ujung dunialah yg dia pilih. Kesederhanaan, kesehajaan mungkin yg membuatnya tampak sedikit aga berbeda. Pria yg memiliki rasa tulus dan kesetiaan yg sulit didapat dari pri mana pun.
Tapi, semakin lama mereka saling berhubungan, bukan kematangan yg mereka dapat. Sang pangeran bertanya, mengapa sang putri bersikap lebih berbeda dari yg dulu. Hatinya mulai terluka karena sikap sang putri, "tapi aku dan hatiku selalu menyayanginya dengan ketulusan dan waktu yg ku punya" ucap bibir sang pangeran meyakinkan dirinya tuk tetap tegar dan bertahan mempertahankan hubungan itu.
*Apa yg membuatmu berbeda, tak sama dengan yg ku kenal dulu ?
"Memintaku memenuhi apa pintamu, memerintahku selayaknya aku adalah pelayanmu, memanggilku ketika kao sedang membutuhkan jasaku, dan kemudian menganggap ku tiada setelah apa yg kao mau telah kao punya" pikir sang pangeran teringat sikap sang putri yg jauh melangkah dari sosok yg dulu.
Putri yg cantik menjdai semakin cantik, semakin manis dan sempurna di mata pria. Banyak raja dan pangeran mendekatinya, memberinya sejuta harta, kemewahan dan mimpi dari semua wanita. Kelebihannya membuat dia merasa begitu berharga, penting dan lebih dari sekedar putri biasa. Tak disadarinya, dia menjadi terlalu menganngap dirinya sempurna, sampai dia terlalu menyepelekan orang di sekitarnya, menganggap terlalu biasa apa yg kasihnya beri untuknya kini.
Betapa sakit hati sang pangeran ujung dunia, merasa ada tapi tak ada di hatinya kini. Ucap darinya hanya sekedar kicau burung belaka, apa yg diperbuatnya hanya sekedar angin yg berhembus kini.
Pada tiba satu waktu, sang pangeran menemui ajalnya karena sakit yg dia punya. Tak satu pun orang yg mengetahuinya, karena dia tak pernah mau membuat orang disekitarnya menjadi sedih karenanya, sungguh ikhlas dirinya.
Awalnya sang putri tak merasa ada yg hilang dari hidupnya. Seiring berjalan waktu, semua menua dan memudar. Sang putri hanyalah seorang putri yg mengejar ujung dunia samapi dia kembali ke titik dimana dia berpijak semula. Tak ada yg dia dapat, ketika dulu dia menganggap orang lain biasa, kini dialah yg menjadi terlalu biasa untuk orang lain. Karena orang lain sudah tak penasaran dengannya, sudah tak mencoba tuk mendapatkannya kini.
Sampai akhirnya, malam sepi melarutkan ingatan sang putri tentang kenangan dari sang pangeran ujung dunia yg sederhana, tulus dan setia selalu untuknya. Apa yg pernah dia lakukan dulu memang tak semewah apa yg orang lain beri, tapi cukup bermakna tuk mengendap dalam hati. Tetes air mata pun berderai, pipi cantiknya basah oleh hujan tangisnya, meratapi betapa keras hatinya, tertutup mata hatinya hanya karena silau dunia. Hanya sesal yg dia punya kini, meratapi hatinya yg sekeras karang di samudra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar